Pages

Minggu, 13 September 2015

Sejarah Lingkungan

Sejarah Museum Kretek
Di Kudus

Ada satu museum unik di Kudus, Jawa Tengah, yaitu Museum Kretek Kudus. Di museum ini, ditampilkan sejarah pembuatan rokok kretek dan dioramanya. Tempat yang wajib didatangi bagi Anda pecinta produk asli Indonesia!
Rokok kretek adalah rokok yang berisi tembakau dan cengkeh, yang bila dibakar terdengar bunyi kretek-kretek. Bagi Anda pecinta rokok kretek, Kudus adalah surganya. Di sana Anda dapat menemukan berbagai jenis rokok kretek. Selain itu, cobalah berkunjung ke Museum Kretek Kudus untuk mengenal sejarah panjang sang rokok kretek.
Museum Kretek terletak di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati Kudus, Kabupaten Kudus tidak jauh dari jalan utama perbatasan Kudus dan Demak. Museum ini telah berdiri sejak 1986. Rokok kretek ternyata juga menghidupi masyarakat kudus. Banyak masyarakat di Kudus yang mengolah tembakau dan bekerja di pabrik untuk membuat rokok kretek. Oleh karena itu, dibangunlah museum ini untuk mengenang 'pahlawan kretek' di masa lalu.
Museum ini memiliki luas sekitar 2 hektar, namun cukup indah dan rapi. Ada banyak koleksi alat-alat untuk memproduksi rokok kretek di dalam museum. Mulai dari alat giling cengkeh, mesin giling tembakau, alat perajang tembakau, dan masih banyak lagi. 
Tidak hanya alatnya saja, ada diorama pembuatan rokok kretek dan pemasaran atau penjualan rokok. Anda dapat melihat bagaimana proses pengumpulan tembakau, proses penghancuran, pemadatan dan penggilingan. Tidak hanya itu, Anda juga akan melihat bagaimana rokok kretek tersebut sampai dijual kepada perokok, dengan diorama penjualan rokok kretek.
Di dalam museum juga terdapat foto-foto dari tokoh-tokoh wiraswasta yang mengembangkan rokok kretek. Anda juga dapat menonton film dokumenter yang memutar tentang sejarah pembuatan rokok kretek dan perkembangannya. Jadi Anda dapat mempelajari dengan jelas, bagaimana kenikmatan dalam rokok kretek dapat tercipta melalui museum ini.
Museum ini buka dari hari Selasa-Minggu dengan harga tiket Rp 1.500. Untuk menonton film dokumenter, dikenakan biaya Rp 20.000. Selain itu, museum ini juga memiliki sarana waterboom, jadi Anda dapat mendinginkan badan setelah traveling keliling Kota Kudus. Dengan Rp 15.000 saja, Anda dapat menyeburkan diri di waterboom tersebut.

Sejarah Lingkungan



Sejarah Tari Kretek­­

Kota kretek merupakan ikon kudus, satu wilayah kecil di jawa tengah yang terkenal dengan produksi rokoknya. Bukan hanya karena saat ini banyak pabrik rokok, tapi juga karena di wilayah itulah pertama kali didirikan perusahaan rokok oleh Noto Semito dengan label “bal tiga”.
Atas dasar itulah maka diciptakan berbagai hal seputar kretek, salah satunya adalah tari kretek.
Asal muasal terciptanya tari kretek adalah tidak lepas dari dibangunnya meseum kretek kudus pada tahun 1987 atas inisiatif bapak gubernur jawa tengah supadjo rustam ketika berkuasa. Pada saat peresmian museum kretek, beliau menginginkan adanya suguhan tarian khas kudus sebagai salah satu bentuk identitas Kota kudus. Tanggap akan permintaan tersebut, Bapak dwi jaswono yang menjabat sebagai kasi kebudayaan pada masa itu meminta Ibu Endang yang merupakan seorang koreografer untuk menciptakan gerakan tari kretek. Awalnya tarian yang diciptakan diberi nama tari mbathil yang selanjutnya berkembang dengan sebutan tari kretek.
Sebagaimana tari tradisional lainnya, Tari kretek bukanlah garakan yang asal-asalan, tari tersebut juga memiliki nilai filosofis. Dari pakaian yang dikenakan, berupa kebaya anggun dengan selendang bergaris berwarna hitam dengan topi lebar, menggambarkan kesejahteraan warga kudus dari dulu hingga sekarang karena adanya imbas dari industri rokok. Sedangkan gerakannya merupakan gambaran dari proses pembuatan rokok, mulai dari pemilihan tembakau sampai sudah berupa lintingan, hingga rokok tersebut siap untuk dipasarkan.
Namun kurangnya minat masyarakat kudus terhadap tarian ini membuatnya sulit berkembang sehingga masyarakat kudus sendiri maupun di luar kota jenang tersebut jarang yang tahu bahwa di kudus memiliki tarian tradisional yang menggambarkan situasi sosial masyarakat kudus pada umumnya. Terutama generasi muda yang seharusnya memegang tongkat estafet akan kearifan lokal ini, ternyata lebih suka dengan kebudayaan moderen.
Kurangnya pementasan tari ini juga semakin membuat lenggokan tari kretek kian tidak populer. Hal ini tidak lepas dari minimnya perhatian pemerintah daerah (Pemda), khususnya dinas kebudayaan setempat yang jarang sekali memfasilitasi dalam mengadakan pertunjukan.
Selama ini pementasan tari kretek hanya pada acara khusus saja. Semisal pada waktu musyawarah nasional (munas) III FSPR TMM (federasi serikat pekerja rokok tembakau, makanan, dan minuman) pada bulan juli 2005 di kudus, serta parade seni dan budaya dalam rangka memperingati hari jadi jawa tengah pada bulan agustus 2008. Pemkab kudus belum pernah mangadakan pertunjukan tunggal untuk tari kretek. Promosi di media masa, khususnya internet juga sangat minim.
Inilah saatnya Pemkab kudus memperhatikan hasil budaya tersebut. Sehingga akan mempertegas identitas kudus sebagai “kota kretek”.